Minggu, 20 Maret 2016

TITRASI ASAM BASA

TITRASI ASAM BASA


OLEH :

RINA SIAHAAN (XI IPA 2)

DAFTAR ISI

A.   Tujuan

B. Teori

C.Alat dan Bahan

D. Cara Kerja

E .   Data Pengamatan

F.    Kesimpulan

G. Daftar Pustaka




JUDUL :  Menentukan kadar Asam di Perdagangan
   A.    Tujuan
Menentukan kadar Asam cuka di perdagangan melalui titrasi.
    B.    Teori
Titrasi asam basa adalah suatu prosedur untuk menentukan kadar (pH) suatu larutan asam/basa berdasarkan reaksi asam basa. Kadar larutan asam dapat ditentukan dengan menggunakan larutan basa yang sudah diketahui kadarnya, dan sebaliknya kadar larutan basa dapat ditentukan dengan menggunakan larutan asam yang sudah diketahui kadarnya. Titrasi yang menyandarkan pada jumlah volum larutan disebut titrasi volumetri. Pengukuran volum diusahakan setepat mungkin dengan menggunakan alat-alat, seperti buret dan pipet volumetri.
Larutan yang akan dicari kadarnya dimasukkan ke dalam labu erlemeyer, sementara larutan yang sudah diketahui kadarnya dimasukkan ke dalam buret. Sebelum memulai titrasi, larutan yang akan dititrasi ditetesi larutan indikator. Jenis indikator yang digunakan disesuaikan dengan titrasi yang dilakukan, misalnya Fenolftalein untuk titrasi asam kuat oleh basa kuat.
Secara teknis, titrasi dilakukan dengan cara mereaksikan sedikit demi sedikit larutan penitrasi melalui buret, ke dalam larutan yang akan dititrasi dalam labu erlemeyer. Penambahan dilakukan terus menerus sampai kedua larutan tepat habis bereaksi yang ditandai dengan berubahnya warna indikator.
Kondisi pada saat terjadi perubahan warna indikator disebut titik akhir titrasi. Titik akhir titrasi diharapkan mendekati titik ekuivalen titrasi, yaitu kondisi pada saat larutan asam habis bereaksi dengan larutan basa. Pendekatan antara titik akhir titrasi dan titik ekuivalen titrasi bergantung pada pH perubahan warna dari larutan indikator. Jika perubahan warna indikator terletak pada pH titik ekuivalen, maka titik akhir titrasi sama dengan titik ekuivalen. Akan tetapi, jika perubahan warna terjadi setelah penambahan larutan penitrasi yang berlebih, maka titik akhir titrasi berbeda dengan titik ekuivalen. Perbedaan antara titik akhir titrasi dengan titik ekuivalen disebut kesalahan titrasi. Besar kecilnya kesalahan titrasi ditentukan oleh pemilihan indikator. Jika indikator yang digunakan tepat, maka kesalahan titrasinya kecil.
Dalam titrasi, ada saat dimana terjadi perubahan pH secara drastis. Kondisi ini terjadi saat titrasi mendekati titik ekuivalen. Perubahan ini akan tetap terjadi meskipun larutan penitrasi yang ditambahkan sangat sedikit. Titik ekuivalen dalam titrasi berbeda-beda tergantung jenis titrasinya. Titrasi asam kuat oleh basa kuat dan sebaliknya mempunyai titik ekuivalen pada pH 7. Titik ekuivalen titrasi asam lemah oleh basa kuat terjadi pada pH basa, antara 8 dan 9. Sementara titik ekuivalen titrasi basa lemah oleh asam kuat berada pada pH asam.


   C.    Alat dan Bahan
Alat :
·         Tiang statif dan Klem
·         Buret
·          Erlenmeyer
·         Pipet tetes
·         Corong kecil
·         Gelas ukur   

Bahan :
·         Larutan NaOH 0,1 M
·         Asam Cuka
·         Indikator Fenolftalein

   D.   Cara Kerja
Berikut adalah cara kerjanya :
1.       Catat merek cuka yang digunakan dan kadar asam yang tercantum pada labelnya.
2.       Larutan Asam cuka diukur sebanyak 2 ml di dalam gelas ukur , setelah itu larutan Asam cuka tersebut dimasukkan kedalam gelas erlenmeyer. Lalu ditambahkan 2 tetes indikator fenolftalein kedalam gelas erlenmeyer.
3.       Lalu buret diisi dengan larutan NaOH 0,1 M hingga garis 0 ml atau 100 ml(tergantung jenis buretnya) dengan menggunakan corong kecil.
4.       Titrasi larutan Asam cuka dengan larutan NaOH 0,1 M. Penetesan harus dilakukan sedikit demi sedikit secara perlahan,hati – hati serta teliti dan gelas erlenmeyer harus terus – menerus digoyangkan. Penetesan dihentikan saat terjadi perubahan warna yang tetap pada larutan, yaitu menjadi merah muda.
5.       Catat volume NaOH yang digunakan sampai indikator tepat berubah warna.
6.       Hitung molaritas larutan Asam cuka .
7.       Bandingkan dengan label pada botol cuka (massa jenis larutan 0,95 g/ml )

   E.    Data Pengamatan
2 ml Larutan Asam cuka  dengan larutan NaOH 0,1 M
Data percobaan
Volume Larutan NaOH yang habis
Rata – Rata Volume
1
3,8 ml
3,9 ml
2
4 ml

Ma          = Vb . Mb : Va
                =   3,9 .  0,1 : 2       
                = 0,195

Ma          = massa/mr × 1000/ml
0,195    = massa/60
Massa(gr) = 11,7 gr

Kadar    = ×100 %
Kadar = ×100 %
Kadar = 12,32 %

   F.     Kesimpulan
Titrasi adalah prosedur untuk menentukan kadar (konsentrasi) suatu larutan berdasarkan reaksi asam basa dengan larutan yang sudah diketahui kadarnya. Kesalahan titrasi yang hanya sebesar 1 ml  tidak terlalu berpengaruh pada perhitungan kadar larutan.
 Kadar asam yang tercantum pada label Asam cuka yaitu 25 % , sementara berdasarkan hasil penelitian yang kami lakukan , kadar asam nya yaitu 12,32 % maka kami menyimpulkan bahwa kadar asam yang tercantum pada label tidak sesuai dengan kadar asam yang kami dapat dari hasil pratikum titrasi.

   G.    Daftar Pustaka


Tidak ada komentar:

Posting Komentar