TITRASI ASAM BASA
OLEH
:
RINA SIAHAAN (XI IPA 2)
DAFTAR ISI
A. Tujuan
B. Teori
C.Alat dan Bahan
D. Cara Kerja
E . Data Pengamatan
F. Kesimpulan
G. Daftar Pustaka
JUDUL :
Menentukan kadar Asam di Perdagangan
A. Tujuan
Menentukan
kadar Asam cuka di perdagangan melalui titrasi.
B. Teori
Titrasi asam basa adalah suatu prosedur untuk menentukan
kadar (pH) suatu larutan asam/basa berdasarkan reaksi asam basa. Kadar larutan
asam dapat ditentukan dengan menggunakan larutan basa yang sudah diketahui
kadarnya, dan sebaliknya kadar larutan basa dapat ditentukan dengan menggunakan
larutan asam yang sudah diketahui kadarnya. Titrasi yang menyandarkan pada
jumlah volum larutan disebut titrasi volumetri. Pengukuran volum diusahakan
setepat mungkin dengan menggunakan alat-alat, seperti buret dan pipet
volumetri.
Larutan yang akan dicari kadarnya dimasukkan ke dalam labu
erlemeyer, sementara larutan yang sudah diketahui kadarnya dimasukkan ke dalam
buret. Sebelum memulai titrasi, larutan yang akan dititrasi ditetesi larutan
indikator. Jenis indikator yang digunakan disesuaikan dengan titrasi yang
dilakukan, misalnya Fenolftalein untuk titrasi asam kuat oleh basa kuat.
Secara teknis, titrasi dilakukan dengan cara mereaksikan
sedikit demi sedikit larutan penitrasi melalui buret, ke dalam larutan yang
akan dititrasi dalam labu erlemeyer. Penambahan dilakukan terus menerus sampai
kedua larutan tepat habis bereaksi yang ditandai dengan berubahnya warna indikator.
Kondisi pada saat terjadi perubahan warna indikator disebut
titik akhir titrasi. Titik akhir titrasi diharapkan mendekati titik ekuivalen
titrasi, yaitu kondisi pada saat larutan asam habis bereaksi dengan larutan
basa. Pendekatan antara titik akhir titrasi dan titik ekuivalen titrasi
bergantung pada pH perubahan warna dari larutan indikator. Jika perubahan warna
indikator terletak pada pH titik ekuivalen, maka titik akhir titrasi sama
dengan titik ekuivalen. Akan tetapi, jika perubahan warna terjadi setelah
penambahan larutan penitrasi yang berlebih, maka titik akhir titrasi berbeda
dengan titik ekuivalen. Perbedaan antara titik akhir titrasi dengan titik
ekuivalen disebut kesalahan titrasi. Besar kecilnya kesalahan titrasi
ditentukan oleh pemilihan indikator. Jika indikator yang digunakan tepat, maka
kesalahan titrasinya kecil.
Dalam titrasi, ada saat dimana terjadi perubahan pH secara
drastis. Kondisi ini terjadi saat titrasi mendekati titik ekuivalen. Perubahan
ini akan tetap terjadi meskipun larutan penitrasi yang ditambahkan sangat
sedikit. Titik ekuivalen dalam titrasi berbeda-beda tergantung jenis
titrasinya. Titrasi asam kuat oleh basa kuat dan sebaliknya mempunyai titik
ekuivalen pada pH 7. Titik ekuivalen titrasi asam lemah oleh basa kuat terjadi
pada pH basa, antara 8 dan 9. Sementara titik ekuivalen titrasi basa lemah oleh
asam kuat berada pada pH asam.
C. Alat dan Bahan
Alat :
·
Tiang statif dan Klem
·
Buret
·
Erlenmeyer
·
Pipet tetes
·
Corong kecil
·
Gelas ukur
Bahan :
·
Larutan NaOH 0,1 M
·
Asam Cuka
·
Indikator Fenolftalein
D. Cara Kerja
Berikut adalah cara kerjanya :
1.
Catat merek cuka yang digunakan dan kadar asam yang tercantum pada
labelnya.
2.
Larutan Asam cuka diukur sebanyak 2 ml di dalam gelas ukur , setelah
itu larutan Asam cuka tersebut dimasukkan kedalam gelas erlenmeyer. Lalu ditambahkan
2 tetes indikator fenolftalein kedalam gelas erlenmeyer.
3.
Lalu buret diisi dengan larutan NaOH 0,1 M hingga garis 0 ml atau 100
ml(tergantung jenis buretnya) dengan menggunakan corong kecil.
4.
Titrasi larutan Asam cuka dengan larutan NaOH 0,1 M. Penetesan harus
dilakukan sedikit demi sedikit secara perlahan,hati – hati serta teliti dan
gelas erlenmeyer harus terus – menerus digoyangkan. Penetesan dihentikan saat
terjadi perubahan warna yang tetap pada larutan, yaitu menjadi merah muda.
5.
Catat volume NaOH yang digunakan sampai indikator tepat berubah warna.
6.
Hitung molaritas larutan Asam cuka .
7.
Bandingkan dengan label pada botol cuka (massa jenis larutan 0,95 g/ml
)
E. Data Pengamatan
2 ml Larutan
Asam cuka dengan larutan NaOH 0,1 M
Data percobaan
|
Volume Larutan
NaOH yang habis
|
Rata – Rata
Volume
|
1
|
3,8 ml
|
3,9 ml
|
2
|
4 ml
|
Ma = Vb . Mb : Va
=
3,9 . 0,1 : 2
= 0,195
Ma = massa/mr × 1000/ml
0,195 = massa/60
Massa(gr) = 11,7 gr
Kadar =
×100 %
Kadar =
×100 %
Kadar = 12,32 %
F. Kesimpulan
Titrasi adalah
prosedur untuk menentukan kadar (konsentrasi) suatu larutan berdasarkan reaksi
asam basa dengan larutan yang sudah diketahui kadarnya. Kesalahan titrasi yang hanya
sebesar 1 ml tidak terlalu berpengaruh
pada perhitungan kadar larutan.
Kadar asam yang tercantum pada label Asam cuka yaitu 25 % , sementara
berdasarkan hasil penelitian yang kami lakukan , kadar asam nya yaitu 12,32 %
maka kami menyimpulkan bahwa kadar asam yang tercantum pada label tidak sesuai
dengan kadar asam yang kami dapat dari hasil pratikum titrasi.
G. Daftar Pustaka
Tidak ada komentar:
Posting Komentar